Indonesia menang kontes Mobile Device Award di Imagine Cup

Big Bang Team

Anggota:
David Samuel, Dody Dharma, Dominikus Damas Putranto, Samuel Simon

Project:
MOSES (Malaria Observation System and Endemic Surveillance) – Aplikasi ini menggabungkan teknologi client runtime dengan aplikasi di PDA untuk melakukan diagnosa dan analisis terhadap pasien yang diduga terkena malaria secara cepat. Solusi ini diharapkan dapat membantu masyarakat yang berada di daerah terpencil agar dapat memperoleh pelayanan kesehatan secara cepat dan tepat. Pada umumnya, di daerah terpencil/pedesaan rata-rata pada saat ini pendeteksian penyakit ini dalam tubuh pasien memerlukan waktu sampai 4 hari. Hal tersebut dikarenakan belum adanya laboratorium yang tersedia di daerah terpencil tersebut yang mampu melakukan test apakah sampel darah yang diambil terjangkit malaria atau tidak.

Pada daerah terpencil tersebut para petugas kesehatan dapat mengunjungi para pasien yang diduga terjangkit malaria, dan melakukan beberapa pemeriksaan terhadap pasien tersebut. Dalam aktifitasnya, petugas kesehatan tersebut dibekali oleh beberapa teknologi yang dapat membantu untuk melakukan anamnesa terhadap penyakit tersebut. Big Bang team menciptakan sebuah virtual character (avatar) bernama Marceline, yang dapat membantu petugas kesehatan tersebut menanyakan beberapa hal yang berkaitan dengan gejala2 penyakit tersebut. Pada saat pendiagnosaan tersebut, Marceline akan bertanya kepada pasien beberapa hal sehubungan dengan penyakit malaria dengan teknologi yang disebut voice recognition.

Setelah seluruh data yang berhubungan dengan anamnesa tersebut didapat, petugas kesehatan juga dilengkapi dengan alat yang bernama PDAscope yang terdiri dari sebuah modifikasi microscope plus PDA. PDAscope ini menyerupai sebuah microscope asli yang dibuat dengan bahan2 yang murah. Hal tersebut merupakan pertimbangan dari Big Bang team atas faktor ekonomis pada implementasi solusi ini. Beberapa materi yang digunakan ternyata dibangun hanya dengan menggunakan pipa paralon yang dilengkapi dengan lensa pada ujungnya.

PDAscope ini nantinya akan dapat menjadi alat pelengkap agar kamera yang berada pada PDA yang dapat meneropong sampel darah yang diambil dari tubuh pasien. Setelah PDA tersebut merekam hasil gambar dari sampel darah tersebut, petugas kesehatan dapat mengirimkan gambar sampel darah tersebut ke pusat kesehatan yang berada pada lokasi yang jauh dari tempat tersebut. Moda komunikasi yang ditentukan untuk melakukan transmisi data tersebut adalah dengan menggunakan teknologi 3G (dengan asumsi bahwa telecommunication provider di Indonesia akan segera memperluas daerah jangkauan layanan data pada lokasi2 yang terpencil).

Setelah sampel darah yang dikirimkan diterima di pusat. Aplikasi yang berada pada server penerima akan segera melakukan analisa terhadap sampel darah tersebut. System akan melakukan analisa terhadap butiran-butiran darah yang dimaksud dengan melakukan pattern recognition atas parameter-parameter yang telah ditentukan sebelumnya – apakah butiran darah dari sampel darah tersebut terjangkit malaria. System akan menentukan (atas threshold yang telah ditentukan sebelumnya) berdasarkan penghitungan jumlah butiran darah yang terjangkit malaria – apakah sampel darah yang dikirimkan benar-benar terbukti positif terjangkiti penyakit tersebut.

Proses penghitungan butiran darah tersebut merupakan sebuah kemajuan teknologi yang dibantu oleh neural network algorithm, dimana metoda tersebut membantu mempercepat penentuan hasil apakah sebuah sampel darah tersebut terjangkit penyakit malaria atau tidak. Dibandingkan dengan kondisi pada saat ini – yang masih melakukan penghitungan manual (menggunakan microscope mengandalkan ketelitian mata manusia) yang cenderung memiliki tingkat human error yang tinggi.

Segera setelah system memperoleh hasil dari pemeriksaan butiran darah tersebut, system akan otomatis mengirimkan hasil kepada petugas kesehatan yang masih berada di lapangan. Sehingga ketika hasil pemeriksaan lab tersebut di dapat, petugas kesehatan dapat segera mengajukan saran agar pasien dapat beristirahat di rumah atau juga perlu untuk dirawat di rumah sakit atau klinik terdekat untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif.

Perlu diketahui, solusi ini yang menggunakan anamnesa dan pemeriksaan sampel darah tersebut tidak hanya dapat melakukan diagnose terhadap penyakit malaria. Diharapkan dengan pengembangan lebih jauh, aplikasi ini dapat juga digunakan untuk melakukan diagnosa secara cepat untuk penyakit2 seperti paratyphus, DBD & TBC.

Pencapaian:
Atas solusi tersebut Big Bang team memenangkan Mobile Device Award, bersama-sama dengan Negara Brazil dan Croatia. Sebagai team yang solusinya mencakup implementasi teknologi dalam area Mobile Device. Selain itu, sebelum keberangkatan ke Cairo, team ini juga diterima oleh menteri kesehatan kita – ibu Siti Fadillah Supari untuk memberikan restu atas karya anak bangsa dalam ikut serta memberikan sumbangsih atas dunia kesehatan di Indonesia.

Diambil dari : http://www.facebook.com/note.php?note_id=228079875342&ref=nf